WELCOME TO BLOG: AMALIA FITRI PERMATASARI

Selasa, 13 Desember 2016

Globalisasi dan kaitannya dengan Perubahan Sosial



Di era millenium ini, dunia telah jauh berubah. Siapapun yang tak mampu berjalan beriringan dengannya, maka secara otomatis akan tereliminasi. Aktor utama dibalik semua ini siapa lagi kalau bukan money. Uang mampu menjadi penguasa manakala siapapun yang memilikinya, dan tentu dalam jumlah yang menggunung, mampu memegang kontrol atas setiap aktifitas modernisasi ini.
Stratifikasi sosial yang menghendaki adanya perbedaan kelas dalam kehidupan bermasyarakat sedikit banyak berdampak pada interaksi sosial yang tak berjalan baik. Dengan sendirinya terjadi persaingan kehidupan yang kentara di masing-masing kelas, dimana kasta tertinggi yang diduduki oleh golongan borjuis sedapat mungkin menggunakan berbagai cara agar dapat terus melangsungkan kelanggengannya di puncak kekuasaan dengan cara mengeksploitasi kaum menegah hingga ke bawah (lemah) sebagai sapi perah, yang digenjot habis tenaganya demi kejayaan sang tuannya.
Sementara itu, kaum menengah ke bawah hanya bisa tertunduk tak berdaya menghadapi gencarnya arus eksploitasi kalangan atas ini, mengingat apa yang dibutuhkan untuk kelangsungan kehidupan mereka, terdapat dalam lingkup yang dikuasai golongan borjuis. Lebih jauh lagi bahwa sikap kapitalistik individualis yang tertanam dalam kalangan atas sebagai gejala yang dibawa oleh barat, menambah kerunyaman nasib kaum menengah ke bawah yang semakin jauh dari hidup yang ideal.
Serangan-serangan globalisasi barat agaknya kian menggerus sendi-sendi nilai dalam kehidupan bermasyarakat yang awalnya begitu solid, tentram, penuh dengan kehangatan, interaktif, dan sikap saling bantu dalam berbagai situasi. Mereka menyebutnya sebagai modernisasi atau pembaruan. Mereka menganggap bahwa nilai-nilai tradisional dalam masyarakat hanya menjadi penghambat kelangsungan kehidupan mereka di dunia. Dibekali daya intelejensi yang tinggi, mereka seolah memanfaatkan dengan baik keunggulan itu untuk membodohi kaum awam yang mau tak mau harus mengikuti dunia yang telah ter-setting oleh mereka.
Berbagai macam problem dan krisis global yang serius pada zaman sekarang adalah kompleks dan multidimesional. Krisis ekologis, kekerasan, dehumanisasi, moral, kriminalitas, kesenjangan sosial yang kian menganga, kelaparan serta penyakit yang masih menghantui dunia merupakan problema yang terkait satu sama lain dengan peradaban modern tersebut. Problema kehidupan pada kehidupan era reformasi (modern) ini telah emnambahkan nilai-nilai kehidupan yang domestik dan personal. Maraknya kasus-kasus perceraian, penggunaan obat-obat terlarang, depresi, psikopat, skizofernia, dan bunuh diri serta aborsi di sisi lain disebut sebagai penyakit-penyakit peradaban[1]. 
Penyakit ini telah menambah keprihatinan kalangan cendikiawan. Masa depan dunia akan didominasi oleh konflik antar bangsa yang berbeda peradaban, terutama setelah runtuhnya polarisasi ideologi dunia ke dalam komunisme dan kapitalisme. Konflik yang dimaksud disini bukan lagi antara yang kaya dan yang miskin, melainkan antara keyakinan yang dianut[2].
Peradaban modern saat ini sangat identik dengan iklim politik dominasi, kemajuan dan lompatan ilmu pengetahuan, ketergantungan teknologiserta penyebaran sumber-sumber ekonomi melalui imperialisme eksplorasi dan eksploitasi, yang dikemas melalui ideologi kapitalistik, kebebasan, dan westernisasi. Contoh, munculnya Cyberspace, yang merupakan bagian yang tidak bisa dilepaskan dari label modern. Cyberspace adalah sebuah ruang utama, yang di dalamnya berbagai simulasi sosial menemukan tempat hidupnya. Perkembangan ruang-ruang simulasi sosial dalam Cyberspace telah mempengaruhi kehidupan sosial di luar ruang tersebut pada hampir semua tingkatan. Setidaknya terdapat tiga tingkatan yakni, tingkatan individu, tingkatan masyarakat, serta tingkatan antara individu. Cyberspace telah menciptakan apa yang disebut sebagai Virtual Reality, sehingga terbentuklah apa yang disebut sebagai Hyperrealitas. Dengan demikian realitas adalah dunia yang telah diambil alih oleh model-model atau simulasi realitas.
Selain apa yang diuraikan diatas, kemajuan media-media telekomunikasi pun tak luput di dalamnya. Kecanggihan telekomunikasi masa kini ratusan kali lipat lebih maju ketimbang saat era tahun 1980 sampai sebelum tahun 2000-an. Berbagai fitur media sosial seolah menjadi pengganti model interaksi secara face to face. Orang-orang tidak lagi harus berkelut dengan jarak dan waktu hanya untuk berkomunikasi, cukup dengan memainkan berbagai fitur media sosial tersebut, maka komunikasi sudah dapat dilakukan. Begitu banyak orang yang merasa terbantu dengan teknologi komunikasi yang kian maju tersebut.
Smartphone bak menjadi benda yang di dewakan oleh kebanyakan orang. Banyak hal yang dapat dilakukan, mulai dari komunikasi jarak jauh, mencari pengetahuan, hingga transaksi jual beli sekalipun dapat dilakukan dengan menggunakan ponsel pintar tersebut. Sungguh benar-benar dimanjakan manusia abad 21 ini. Bukan tidak mungkin 10 sampai 20 tahun mendatang ada kemajuan yang lebih spektakuler lagi yang bakal tercipta.
Namun, tentunya dibalik sebuah kemajuan yang pesat, muncul dampak yang tak dapat dihindarkan pula akibatnya. Karena lebih seringnya berkomunikasi jarak jauh, manusia era modern ini terkadang mengabaikan adanya interaksi secara langsung, bahkan lebih parahnya lagi sekalipun banyak orang yang berlalu lalang, mereka lebih memilih fokus menatap layar ponsel pintar ketimbang harus bertegur sapa.
Semua yang terjadi di atas hanya bagian kecil dari arus modernisasi yang telah sukses bercokol di berbagai belahan dunia. Siapapun yang masih bertahan teguh dengan nilai-nilai tradisional yang kuno, maka akan tergerus dengan sendirinya. Modernisasi menawarkan dinamisasi segi kehidupan yang memacu manusia untuk terus fight, sedangkan nilai-nilai tradisional hanya mengantarkan pada stagnasi semata. Itu menurut pendapat kaum modernis. Dogma mereka begitu ampuh memikat dunia, hingga kini dianut hingga dipuja-puja masyarakat dunia.
Indonesia sebagai bagian dari dunia yang luas turut serta dalam arus kemajuan ini, meskipun tak dapat dipungkiri negeri ini belum mampu menyejajarkan diri dengan negara-negara adidaya lainnya. Banyak hal yang menjadi faktor dari keterlambatan negeri ini untuk bangkit dari keterpurukan. Salah satunya karena negeri ini terlampau sangat lama sekali terkungkung dalam imperialisme barat. Bahkan usia kemerdekaan Indonesia saat ini belum melampaui lamanya durasi penjajahan dulu.
Selain itu etos masyarakat kekinian tak sebaik kala di awal meraih kemerdekaan yang begitu giat dalam merangkai kemajuan. Berkaca pada negara-negara yang sempat pula terpuruk dan kini menjadi sangat maju, semisal Jepang, mereka tak pernah luntur mewariskan semangat-semangat kemajuan yang harus diperjuangkan secara gigih laiknya berjuang meraih kemerdekaan kepada anak cucu mereka. Hasil memang tak pernah mengkhianati usaha, Jepang menjadi salah satu kiblat kemajuan dunia, jauh melampaui Indonesia, yang padahal dulu pernah sama-sama terpuruk.
Tak ada kata terlambat untuk terus berpacu dalam ganasnya peradaban dunia di era millenium ini. Namun tentunya, harus ada kontrol terhadap arus yang keluar-masuk dalam setiap perkembangan yang ada. Globalisasi bukan hadir untuk membunuh nilai-nilai normatif yang terdapat dalam masyarakat, namunkeduanyaharus berjalan beriringan, agar hadirnya sebuah kemajuan tak menggerus peradaban yang dibangun susah payah sejak lampau.


[1] Fritjop Capra, Titik Balik Peradaban: Sains, Masyarakat, dan Kebangkitan Kebudayaan (Yogyakarta: Bentang Budaya, 1997), hlm.88.
[2] Yesmil Anwar dan Adang, Pengantar Sosiologi Hukum, (Jakarta: PT Grasindo, 2013), hlm.145.