WELCOME TO BLOG: AMALIA FITRI PERMATASARI

Selasa, 13 Desember 2016

Globalisasi dan kaitannya dengan Perubahan Sosial



Di era millenium ini, dunia telah jauh berubah. Siapapun yang tak mampu berjalan beriringan dengannya, maka secara otomatis akan tereliminasi. Aktor utama dibalik semua ini siapa lagi kalau bukan money. Uang mampu menjadi penguasa manakala siapapun yang memilikinya, dan tentu dalam jumlah yang menggunung, mampu memegang kontrol atas setiap aktifitas modernisasi ini.
Stratifikasi sosial yang menghendaki adanya perbedaan kelas dalam kehidupan bermasyarakat sedikit banyak berdampak pada interaksi sosial yang tak berjalan baik. Dengan sendirinya terjadi persaingan kehidupan yang kentara di masing-masing kelas, dimana kasta tertinggi yang diduduki oleh golongan borjuis sedapat mungkin menggunakan berbagai cara agar dapat terus melangsungkan kelanggengannya di puncak kekuasaan dengan cara mengeksploitasi kaum menegah hingga ke bawah (lemah) sebagai sapi perah, yang digenjot habis tenaganya demi kejayaan sang tuannya.
Sementara itu, kaum menengah ke bawah hanya bisa tertunduk tak berdaya menghadapi gencarnya arus eksploitasi kalangan atas ini, mengingat apa yang dibutuhkan untuk kelangsungan kehidupan mereka, terdapat dalam lingkup yang dikuasai golongan borjuis. Lebih jauh lagi bahwa sikap kapitalistik individualis yang tertanam dalam kalangan atas sebagai gejala yang dibawa oleh barat, menambah kerunyaman nasib kaum menengah ke bawah yang semakin jauh dari hidup yang ideal.
Serangan-serangan globalisasi barat agaknya kian menggerus sendi-sendi nilai dalam kehidupan bermasyarakat yang awalnya begitu solid, tentram, penuh dengan kehangatan, interaktif, dan sikap saling bantu dalam berbagai situasi. Mereka menyebutnya sebagai modernisasi atau pembaruan. Mereka menganggap bahwa nilai-nilai tradisional dalam masyarakat hanya menjadi penghambat kelangsungan kehidupan mereka di dunia. Dibekali daya intelejensi yang tinggi, mereka seolah memanfaatkan dengan baik keunggulan itu untuk membodohi kaum awam yang mau tak mau harus mengikuti dunia yang telah ter-setting oleh mereka.
Berbagai macam problem dan krisis global yang serius pada zaman sekarang adalah kompleks dan multidimesional. Krisis ekologis, kekerasan, dehumanisasi, moral, kriminalitas, kesenjangan sosial yang kian menganga, kelaparan serta penyakit yang masih menghantui dunia merupakan problema yang terkait satu sama lain dengan peradaban modern tersebut. Problema kehidupan pada kehidupan era reformasi (modern) ini telah emnambahkan nilai-nilai kehidupan yang domestik dan personal. Maraknya kasus-kasus perceraian, penggunaan obat-obat terlarang, depresi, psikopat, skizofernia, dan bunuh diri serta aborsi di sisi lain disebut sebagai penyakit-penyakit peradaban[1]. 
Penyakit ini telah menambah keprihatinan kalangan cendikiawan. Masa depan dunia akan didominasi oleh konflik antar bangsa yang berbeda peradaban, terutama setelah runtuhnya polarisasi ideologi dunia ke dalam komunisme dan kapitalisme. Konflik yang dimaksud disini bukan lagi antara yang kaya dan yang miskin, melainkan antara keyakinan yang dianut[2].
Peradaban modern saat ini sangat identik dengan iklim politik dominasi, kemajuan dan lompatan ilmu pengetahuan, ketergantungan teknologiserta penyebaran sumber-sumber ekonomi melalui imperialisme eksplorasi dan eksploitasi, yang dikemas melalui ideologi kapitalistik, kebebasan, dan westernisasi. Contoh, munculnya Cyberspace, yang merupakan bagian yang tidak bisa dilepaskan dari label modern. Cyberspace adalah sebuah ruang utama, yang di dalamnya berbagai simulasi sosial menemukan tempat hidupnya. Perkembangan ruang-ruang simulasi sosial dalam Cyberspace telah mempengaruhi kehidupan sosial di luar ruang tersebut pada hampir semua tingkatan. Setidaknya terdapat tiga tingkatan yakni, tingkatan individu, tingkatan masyarakat, serta tingkatan antara individu. Cyberspace telah menciptakan apa yang disebut sebagai Virtual Reality, sehingga terbentuklah apa yang disebut sebagai Hyperrealitas. Dengan demikian realitas adalah dunia yang telah diambil alih oleh model-model atau simulasi realitas.
Selain apa yang diuraikan diatas, kemajuan media-media telekomunikasi pun tak luput di dalamnya. Kecanggihan telekomunikasi masa kini ratusan kali lipat lebih maju ketimbang saat era tahun 1980 sampai sebelum tahun 2000-an. Berbagai fitur media sosial seolah menjadi pengganti model interaksi secara face to face. Orang-orang tidak lagi harus berkelut dengan jarak dan waktu hanya untuk berkomunikasi, cukup dengan memainkan berbagai fitur media sosial tersebut, maka komunikasi sudah dapat dilakukan. Begitu banyak orang yang merasa terbantu dengan teknologi komunikasi yang kian maju tersebut.
Smartphone bak menjadi benda yang di dewakan oleh kebanyakan orang. Banyak hal yang dapat dilakukan, mulai dari komunikasi jarak jauh, mencari pengetahuan, hingga transaksi jual beli sekalipun dapat dilakukan dengan menggunakan ponsel pintar tersebut. Sungguh benar-benar dimanjakan manusia abad 21 ini. Bukan tidak mungkin 10 sampai 20 tahun mendatang ada kemajuan yang lebih spektakuler lagi yang bakal tercipta.
Namun, tentunya dibalik sebuah kemajuan yang pesat, muncul dampak yang tak dapat dihindarkan pula akibatnya. Karena lebih seringnya berkomunikasi jarak jauh, manusia era modern ini terkadang mengabaikan adanya interaksi secara langsung, bahkan lebih parahnya lagi sekalipun banyak orang yang berlalu lalang, mereka lebih memilih fokus menatap layar ponsel pintar ketimbang harus bertegur sapa.
Semua yang terjadi di atas hanya bagian kecil dari arus modernisasi yang telah sukses bercokol di berbagai belahan dunia. Siapapun yang masih bertahan teguh dengan nilai-nilai tradisional yang kuno, maka akan tergerus dengan sendirinya. Modernisasi menawarkan dinamisasi segi kehidupan yang memacu manusia untuk terus fight, sedangkan nilai-nilai tradisional hanya mengantarkan pada stagnasi semata. Itu menurut pendapat kaum modernis. Dogma mereka begitu ampuh memikat dunia, hingga kini dianut hingga dipuja-puja masyarakat dunia.
Indonesia sebagai bagian dari dunia yang luas turut serta dalam arus kemajuan ini, meskipun tak dapat dipungkiri negeri ini belum mampu menyejajarkan diri dengan negara-negara adidaya lainnya. Banyak hal yang menjadi faktor dari keterlambatan negeri ini untuk bangkit dari keterpurukan. Salah satunya karena negeri ini terlampau sangat lama sekali terkungkung dalam imperialisme barat. Bahkan usia kemerdekaan Indonesia saat ini belum melampaui lamanya durasi penjajahan dulu.
Selain itu etos masyarakat kekinian tak sebaik kala di awal meraih kemerdekaan yang begitu giat dalam merangkai kemajuan. Berkaca pada negara-negara yang sempat pula terpuruk dan kini menjadi sangat maju, semisal Jepang, mereka tak pernah luntur mewariskan semangat-semangat kemajuan yang harus diperjuangkan secara gigih laiknya berjuang meraih kemerdekaan kepada anak cucu mereka. Hasil memang tak pernah mengkhianati usaha, Jepang menjadi salah satu kiblat kemajuan dunia, jauh melampaui Indonesia, yang padahal dulu pernah sama-sama terpuruk.
Tak ada kata terlambat untuk terus berpacu dalam ganasnya peradaban dunia di era millenium ini. Namun tentunya, harus ada kontrol terhadap arus yang keluar-masuk dalam setiap perkembangan yang ada. Globalisasi bukan hadir untuk membunuh nilai-nilai normatif yang terdapat dalam masyarakat, namunkeduanyaharus berjalan beriringan, agar hadirnya sebuah kemajuan tak menggerus peradaban yang dibangun susah payah sejak lampau.


[1] Fritjop Capra, Titik Balik Peradaban: Sains, Masyarakat, dan Kebangkitan Kebudayaan (Yogyakarta: Bentang Budaya, 1997), hlm.88.
[2] Yesmil Anwar dan Adang, Pengantar Sosiologi Hukum, (Jakarta: PT Grasindo, 2013), hlm.145.

Selasa, 01 November 2016

Tugas Wawancara (Sosiologi Hukum)



Minggu yang lalu saya diberi tugas oleh dosen saya untuk melakukan wawancara terhadap beberapa mahasiswa terkait mencontek dan pelanggaran lalu lintas. Disuruh untuk memilih, saya lebih memilih yang bertemakan mencontek. Dan di artikel ini saya akan mengemukakan hasil daripada wawancara saya.
TIDAK MENCONTEK
Yang pertama, sebut saja kakak tingkat jurusan saya. Apakah yang membuat anda tidak mencontek? Karena saya belajar giat dan saya pasti yakin akan mendapatkan nilai yang terbaik maka dari itu, saya tidak perlu melakukan yang namanya mencontek. Apakah anda puas dengan hasil ujiannya? Puas, karena malamnya pasti saya belajar dengan giat mempersiapkan dengan matang untuk ujian hari besok. Apa perasaanmu terhadap pengawas atau dosen yang membiarkan pencontekan berlangsung? Saya tidak setuju dan tidak senang pastinya, karena mereka yang mencontek seperti diberi ruang gerak untuk melakukan aksi pencontekan tersebut. Apa pendapatmu tentang sanksi tepat untuk diberikan kepada para pencontek? Sebaiknya diberi nasihat, kalau tidak ada perbaikan perilaku dengan diberikannya nasihat maka dilakukan peneguran bahwa mahasiswa yang mencontek harus maju ke depan lalu jika cara tersebut tidak terlaksana maka lebih baik dikeluarkan dari ruang ujian. Bagaimana cara yang perlu ditempuh agar tidak ada mahasiswa yang mencontek saat ujian? Pertama belajar yang rajin dan giat pastinya dan jangan lupa meminta support dan doa dari orangtua. Apa usul anda agar aturan dilarang mencontek efektif di semua mata ujian? Ketika masuk ruang ujian, mahasiswa diperiksa terlebih dahulu apa ada benda-benda sensitif untuk mencontek yang mereka taruh disekitar mereka. Apa fasilitas yang sekiranya dibutuhkan agar mahasiswa itu sendiri berhenti mencontek? Fasilitas cctv mungkin sangat dibutuhkan.
Yang kedua, dari teman saya satu kelas. Apakah yang membuat anda tidak mencontek? Yang menyebabkan saya tidak mencontek adalah karena pengawasan dari dosen ketika ujian sedang berlangsung, dan untuk melatih kejujuran diri saya agar tidak bergantung kepada orang lain. Apakah anda puas dengan hasil ujiannya? Saya puas dengan hasil ujian saya sendiri, karena itu merupakan usaha saya sendiri dan jerih payah saya sendiri. Apa perasaanmu terhadap pengawas atau dosen yang membiarkan pencontekan berlangsung? Alangkah baiknya dosen harus lebih ketat dalam mengawasi ujian. Apa pendapatmu tentang sanksi tepat untuk diberikan kepada para pencontek? Lebih baik jika mahasiswa yang bersangkutan mencontek harus ditindak tegas jika membiarkan maka lebih baik dibawa ke kantor dosen dan ujian privat disana atau aklau perlu ketika ujian berlangsung mahasiswa yang terlihat mencontek ditandai atau ditulis namanya. Bagaimana cara yang perlu ditempuh agar tidak ada mahasiswa yang mencontek saat ujian? Soal ujian dibedakan, kemudian penempatan tempat duduk direnggangi dan ketika ujian berlangsung dosen berkeliling. Apa usul anda agar aturan dilarang mencontek efektif di semua mata ujian? Mahasiswa harus dikritisi karena kalau dibiarkan terus mencontek, mahasiswa pasti tidakmau belajar dan akan terus bergantung pada fasilitas dan sarana mencontek yang telah mereka siapkan. Apa fasilitas yang sekiranya dibutuhkan agar mahasiswa itu sendiri berhenti mencontek? Perlu adanya cctv, agar dosen bisa tahu mana yang terlihat mencontek dan mana yang tidak mencontek.
Yang ketiga, sebut saja dari adik tingkat sejurusan. Apakah yang membuat anda tidak mencontek? Karena dengan tidak mencontek membuat kita bangga dengan hasil kita sendiri. Apakah anda puas dengan hasil ujiannya? Sangat puas, karena hasil kita sendiri. Apa perasaanmu terhadap pengawas atau dosen yang membiarkan pencontekan berlangsung? Terkadang iri dengan mahasiswa lain yang mencontek dan bisa menjawab pertanyaan tertulis dengan cepat. Apa pendapatmu tentang sanksi tepat untuk diberikan kepada para pencontek? Sanksinya bisa dilakukan dengan adanya remidial atau ujian ulang yang diadakan di satu ruangan dan ditunggu oleh dua dosen pengawas. Bagaimana cara yang perlu ditempuh agar tidak ada mahasiswa yang mencontek saat ujian? Adanya ujian lisan. Apa usul anda agar aturan dilarang mencontek efektif di semua mata ujian? Ya itu, dengan adanya ujian lisan dimana nanti akan kelihatan mana yang belajar dan mana yang tidak belajar dan aturan dilarang mencontek itu perlu ditekankan lagi. Apa fasilitas yang sekiranya dibutuhkan agar mahasiswa itu sendiri berhenti mencontek? Tiap ruang ujian dipasang cctv.

MENCONTEK
Yang pertama, sebut saja dari kakak tingkat. Apakah anda tidak setuju dengan aturan dilarang mencontek? Sebenarnya setuju, karena kalau mencontek itu bisa membuat mahasiswa kecanduan untuk terus mencontek. Mengapa anda memilih untuk mencontek? Karena keadaan terhimpit mungkin ya. Bagaimana anda menyiapkan contekan? Menyiapkan kertas selipan contekan. Bagaimana antisipasi anda agar perbuatan yang anda lakukan tidak diketahui oleh pengawas? Ya kertas selipan bahan mencontek itu dimasukkan saku. Bagaimana perasaanmu saat mencontek? Deg-degan. Apa pendapatmu tentang pengawas atau dosen yang tegas menindak pelaku pencontekan? Kalau ada dosen yang tegas, segera membuang kertas bahan contekan. Apakah anda puas dengan nilai hasil contekan? Tidak sebenarnya. Apakah ada rencana untuk berhenti mencontek? Ada. Keadaan seperti apa yang sekiranya membuat anda tidak memilih untuk mencontek? Ya saat ujian berikutnya.
Yang kedua yang pernah mencontek, sebut saja saya sendiri. Apakah anda tidak setuju dengan aturan dilarang mencontek? Bukan saya tidak setuju, tapi antara mencontek dan tidak mencontek itu pilihan hidup ketika menghadapi ujian. Mengapa anda memilih untuk mencontek? Karena keadaan mungkin ya, kepepet menit soal misalnya. Bagaimana anda menyiapkan contekan? Saya menyelipkan dibawah lembar jawaban atau kalau tidak mengeluarkan handphone lalu browsing. Bagaimana antisipasi anda agar perbuatan yang anda lakukan tidak diketahui oleh pengawas? Ketika dilihat pengawas saya memberikan ekspresi fokus menulis jawaban. Bagaimana perasaanmu saat mencontek? Tidak tenang karena bingung dengan pengawas dan bingung pilih mencontek materi sendiri atau mencontek jawaban orang lain. Apa pendapatmu tentang pengawas atau dosen yang tegas menindak pelaku pencontekan? Bagus. Apakah anda puas dengan nilai hasil contekan? Tidak, karena ilmu yang saya dapat pasti sia-sia. Apakah ada rencana untuk berhenti mencontek? Ada. Keadaan seperti apa yang sekiranya membuat anda tidak memilih untuk mencontek? Ketika ada ujian yang dimana ujian tersebut dalam sehari itu tidak sampai 3 mata kuliah.
Yang ketiga, sebut saja teman saya dari kelas sebelah. Apakah anda tidak setuju dengan aturan dilarang mencontek? Setuju sebenarnya. Mengapa anda memilih untuk mencontek? Karena kondisi dan situasi yang tidak mendukung. Bagaimana anda menyiapkan contekan? Dengan duduk dekat teman yang paling pintar di kelas. Bagaimana antisipasi anda agar perbuatan yang anda lakukan tidak diketahui oleh pengawas? Datang lebih awal dan cari tempat duduk yang aman. Bagaimana perasaanmu saat mencontek? Biasa saja namun sedikit tidak tenang. Apa pendapatmu tentang pengawas atau dosen yang tegas menindak pelaku pencontekan? Mereka boleh saja melakukan tindak tegas tersebut tetapi apakah pengawas tidak tahu bahwa semua orang pasti pernah melakukan pencontekan. Apakah anda puas dengan nilai hasil contekan? Sedikit tidak puas. Apakah ada rencana untuk berhenti mencontek? Ada. Keadaan seperti apa yang sekiranya membuat anda tidak memilih untuk mencontek? Ketika segala situasi dan kondisinya mendukung.
Kesimpulannya adalah bahwa mahasiswa memiliki opininya masinng-masing terkait kasus pencontekan. Mahasiswa yang memilih tidak mencontek lebih bisa terkesan sebagai orang yang optimitis daripada yang mencontek. Tapi mahasiswa yang mencontek jika ditelaah alasan mereka memilih mencontek tersebut terkadang ada benarnya. Jadi kalian yang membaca artikel ini, khususnya mahasiswa, anda memilih mencontek atau tidak mencontek? Sekian artikel yang saya tulis semoga berkesan untuk dibaca.

Senin, 24 Oktober 2016

Artikel : Pelapisan Sosial

Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial (social stratification) adalah pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal (bertingkat). Yang dimaksud berlapis-lapis adalah tersusun secara vertikal, maka ada kelas bawah, menengah dan atas.
Pada umumnya stratifikasi terdiri dari berbagai hal diantaranya:
a)      stratifikasi sosial dalam bidang ekonomi
Pelapisan sosial dalam bidang ekonomi akan membedakan penduduk masyarakat menurut penguasaan dan kepemilikan materi. Dalam pelapisan ini, pendapatan, kekayaan dan pekerjaan akan membagi anggota masyarakat ke dalam beberapa lapisan satau kelas-kelas ekonomi.
b)      stratifikasi sosial dalam bidang politik
Stratifikasi sosial dalam bidang politik merupakan pembagian anggota masyarakat berdasarkan tingkat kekuasaan yang dimilikinya. Di dalam setiap masyarakat selalu terdapat garis-garis batas yang tegas antara penguasa dan masyarakat yang dikuasai sehingga kita mengenal kelompok pemerintah dan kelompok rakyat yang diperintah.
c)      stratifikasi sosial dalam status hal sosial 
    Pelapisan sosial dengan dalam status sosial ini meliputi kedudukan dan peran. Kedua unsur ini merupakan unsur baku dalam sistem lapisan dan mempunyai arti yang penting bagi sistem sosial. Kedudukan adalah tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Sedangkan kedudukan sosial adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya, sehubungan dengan orang-orang lain di dalam lingkungan pergaulannya, prestise, dan hak-hak serta kewajibannya. Peran adalah penentu apa yang diperbuatnya bagi masyarakat serta kesempatan-kesempatan apa yang diberikan oleh masyarakat. Peran berfungsi untuk menyesuaikan, perilaku individu dengan perilaku orang-orang sekelompoknya.

Stratifikasi terjadi dalam kehidupan bermasyarakat di negeri manapun, baik yang agraris maupun  industrial, yang feodalis maupun yang kapitalis. Beberapa kriteria yang lazim dibuat dasar pengelompokan masyarakat dalam strata-strata tertentu adalah:
1)      Ukuran kekayaan
Kekayaan dijadikan dasar pelapisan, maka barang siapa memiliki kekayaan paling banyak ia akan menempati kelas teratas. Kekayaan yang dimaksud antara lain bisa dilihat dari keadaan rumah yang dimiliki, merk mobil yang dipakai, luas tanah, kebiasaan belanja, barang-barang elektronik, logam mulia, uang dan sejenisnya.
Hal seperti ini berlaku di daerah sekitar rumah saya. Jika diamati dalam lingkungan masyarakat saya, maka biasanya yang paling dipercaya dalam masyarakat adalah orang yang kaya dan memiliki kelebihan harta. Di lingkungan saya banyak sekali orang kaya, karena di sekitar rumah saya terdapat perumahan otomatis mayoritas yang menempati rumah di perumahan adalah orang-orang kaya.  Salah satumya ada yang memiliki dua rumah sekaligus di dalam perumahan tersebut dan apabila diamati beliau memiliki mobil mewah Pajero Sport dan kebiasaan belanja di toko saya pasti membeli 2 rokok Marlboro sekaligus. Juga jika diamati anaknya sering gonta-ganti sepeda motor. Di timur rumah saya juga ada orang kaya bapak Lukman, beliau ikut andil dalam sebuah yayasan pendirian sekolah menengah kejuruan di dekat rumah saya juga salah satu universitas di Tulungagung. Di lingkungan saya jika ada sebuah acara semacam genduren, atau yasinan maka keluarga beliau tidak pernah lupa diberi berkat (jajan) dua kali lipat. Kekayaan beliau juga banyak seperti memiliki mobil honda jazz, cr-v, mercedes benz, dan mayoritas rumah anaknya didirikan berdekatan atau bersampingan dengan rumah beliau.
2)      Ukuran kekuasaan
Barang siapa memiliki kekuasaan atau wewenang terbanyak maka ia akan menempati kelas tertinggi. Hal ini bisa diamati dalam lingkungan UKM kampus saya. Misal, dalam suatu acara sebuah organisasi sebut saja HMJ, surat menyurat terkait acara jika diamati dalam memerlukan sebuah persetujuan acara atau penandatanganan pasti dilakukan urut mulai dari Ketua Pelaksana Acara kemudian Sekretaris Acara kemudian Ketua HMJ kemudian Presiden DEMA lalu bisa Wakil Dekan atau Wakil Rektor bidang kemahasiswaan. Jika di acara kampus juga yang menduduki tempat duduk paling depan di suatu acara bersebelahan dengan Rektor atau jajarannya biasanya juga ada Presiden DEMA atau Ketua DEMA Fakultas padahal jika diliat secara umum status mereka juga mahasiswa sama seperti peserta acara lainnya akan tetapi karena mereka adalah ketua atau pimpinan daripada suatu lembaga maka mereka berhak mendapatkan surat undangan sama seperti Rektor beserta jajarannya.
3)      Ukuran kehormatan
Kehormatan dapat terkait dengan kekayaan dan kekuasaan, tetapi bisa juga lepas darinya. Orang yang paling dihormati dan disegani dalam masyarakat, terutama masyarakat tradisional biasanya adalah orang yang dianggap paling tua, paling berjasa atau paling konsisten mematuhi norma, walaupun secara struktural ia tidak mempunyai kekuasaan dan miskin secara harta. Di dalam masyarakat, contoh figur tersebut ada pada bayan di kelurahan saya. Beliau memang tidak memiliki harta yang melimpah seperti orang kaya pada umumnya. Tetapi karena pengabdiannya dengan lingkungan kelurahan saya yang sudah cukup lama beliau menjadi disegani oleh masyarakat. Ketua RT di lingkungan saya juga seperti itu, walaupun secara finansial keluarga dia tidak tercukupi tetapi ketika bertegur sapa di jalan dengan orang lain maka beliau selalu disapa terlebih dahulu. Selain itu, terdapat tokoh agama yang juga menjadi salah satu tokoh sentral dalam bermasyarakat. Pada umumnya, orang-orang Jawa menyebut tokoh ini dengan sebutan Modin. Modin bertugas sebagai orang yang paling diandalkan dalam setiap acara keagamaan, misalnya dalam kegiatan pernikahan, acara pemakaman, dll.
4)      Ukuran ilmu pengetahuan
Orang yang memiliki ilmu pengetahuan lebih tinggi akan menempati strata sosial tertinggi. Ini terjadi dalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Fenomena belakangan ini barangkali dapat menjadi gambaran betapa ilmu pengetahuan kini mampu bertengger sejajar dengan kebutuhan primer lainnya. Hal ini dapat terjadi mengingat keberadaan ilmu pengetahuan dewasa ini menjadi sebuah hal yang urgen bagi kelangsungan kehidupan. Faktor keberhasilan seseorang kini bukan lagi sekedar faktor keberuntungan semata, atau mungkin dengan hanya  faktor keberanian, tapi peran ilmu pengetahuan sudah menjadi sentral dari semua perkembangan tersebut.
Kini, kebanyakan para orang tua sudah mulai terbuka dan mulai memperhatikan kecerdasan anaknya. Karena mereka yakin, bahwa pendidikan tinggi akan membawa kehidupan anak-anak mereka menjadi lebih baik. Jika sebelumnya mayoritas  orangtua hanya mengenyam pendidikan dasar,  maka dari itu para orangtua tersebut mengusahakan agar anaknya mampu mengenyam  pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi.  
Hal ini nampak jelas terjadi pada kampus saya, IAIN Tulungagung. Kampus yang sejak tahun 2013 beralih status menjadi Institut ini terus berbenah dan meningkatkan kualitas di dalamnya. Hal ini nampak terang dalam segi perolehan jumlah mahasiswa yang kian tahun kian menanjak. Terkini, kampus terbesar di kabupaten Tulungagung ini menerima sejumlah 4.070 mahasiswa dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dari gambaran diatas dapat dilihat animo masyarakat, khususnya kalangan pelajar yang baru menyelesaikan pendidikan atas, untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sangat besar sekali. Hal ini menandakan bahwa ilmu pengetahuan menempati posisi yang begitu urgent dalam setiap kehidupan manusia.
Jadi kesimpulannya adalah bahwa stratifikasi sosial itu terbentuk atas beberapa faktor diantaranya adalah faktor ekonomi, sosial dan politik. Namun selain itu terdapat sumber atau dasar-dasar pembentukan stratifikasi sosial, yakni ditinjau dari kekayaan, kekuasaan, kehormatan dan ukuran ilmu pengetahuan.