Di era millenium ini, dunia telah jauh berubah.
Siapapun yang tak mampu berjalan beriringan dengannya, maka secara otomatis
akan tereliminasi. Aktor utama dibalik semua ini siapa lagi kalau bukan money.
Uang mampu menjadi penguasa manakala siapapun yang memilikinya, dan tentu dalam
jumlah yang menggunung, mampu memegang kontrol atas setiap aktifitas
modernisasi ini.
Stratifikasi sosial yang menghendaki adanya perbedaan
kelas dalam kehidupan bermasyarakat sedikit banyak berdampak pada interaksi
sosial yang tak berjalan baik. Dengan sendirinya terjadi persaingan kehidupan
yang kentara di masing-masing kelas, dimana kasta tertinggi yang diduduki oleh
golongan borjuis sedapat mungkin menggunakan berbagai cara agar dapat
terus melangsungkan kelanggengannya di puncak kekuasaan dengan cara
mengeksploitasi kaum menegah hingga ke bawah (lemah) sebagai sapi perah, yang
digenjot habis tenaganya demi kejayaan sang tuannya.
Sementara itu, kaum menengah ke bawah hanya bisa
tertunduk tak berdaya menghadapi gencarnya arus eksploitasi kalangan atas ini,
mengingat apa yang dibutuhkan untuk kelangsungan kehidupan mereka, terdapat
dalam lingkup yang dikuasai golongan borjuis. Lebih jauh lagi bahwa
sikap kapitalistik individualis yang tertanam dalam kalangan atas sebagai
gejala yang dibawa oleh barat, menambah kerunyaman nasib kaum menengah ke bawah
yang semakin jauh dari hidup yang ideal.
Serangan-serangan globalisasi barat agaknya kian
menggerus sendi-sendi nilai dalam kehidupan bermasyarakat yang awalnya begitu
solid, tentram, penuh dengan kehangatan, interaktif, dan sikap saling bantu
dalam berbagai situasi. Mereka menyebutnya sebagai modernisasi atau pembaruan.
Mereka menganggap bahwa nilai-nilai tradisional dalam masyarakat hanya menjadi
penghambat kelangsungan kehidupan mereka di dunia. Dibekali daya intelejensi
yang tinggi, mereka seolah memanfaatkan dengan baik keunggulan itu untuk
membodohi kaum awam yang mau tak mau harus mengikuti dunia yang telah ter-setting
oleh mereka.
Berbagai macam problem dan krisis global yang serius pada
zaman sekarang adalah kompleks dan multidimesional. Krisis ekologis, kekerasan,
dehumanisasi, moral, kriminalitas, kesenjangan sosial yang kian menganga,
kelaparan serta penyakit yang masih menghantui dunia merupakan problema yang
terkait satu sama lain dengan peradaban modern tersebut. Problema kehidupan
pada kehidupan era reformasi (modern) ini telah emnambahkan nilai-nilai
kehidupan yang domestik dan personal. Maraknya kasus-kasus perceraian,
penggunaan obat-obat terlarang, depresi, psikopat, skizofernia, dan bunuh diri
serta aborsi di sisi lain disebut sebagai penyakit-penyakit peradaban[1].
Penyakit ini telah menambah keprihatinan kalangan
cendikiawan. Masa depan dunia akan didominasi oleh konflik antar bangsa yang
berbeda peradaban, terutama setelah runtuhnya polarisasi ideologi dunia ke
dalam komunisme dan kapitalisme. Konflik yang dimaksud disini bukan lagi antara
yang kaya dan yang miskin, melainkan antara keyakinan yang dianut[2].
Peradaban modern saat ini sangat identik dengan iklim
politik dominasi, kemajuan dan lompatan ilmu pengetahuan, ketergantungan
teknologiserta penyebaran sumber-sumber ekonomi melalui imperialisme eksplorasi
dan eksploitasi, yang dikemas melalui ideologi kapitalistik, kebebasan, dan
westernisasi. Contoh, munculnya Cyberspace, yang merupakan bagian yang
tidak bisa dilepaskan dari label modern. Cyberspace adalah sebuah ruang
utama, yang di dalamnya berbagai simulasi sosial menemukan tempat hidupnya.
Perkembangan ruang-ruang simulasi sosial dalam Cyberspace telah
mempengaruhi kehidupan sosial di luar ruang tersebut pada hampir semua
tingkatan. Setidaknya terdapat tiga tingkatan yakni, tingkatan individu,
tingkatan masyarakat, serta tingkatan antara individu. Cyberspace telah
menciptakan apa yang disebut sebagai Virtual Reality, sehingga
terbentuklah apa yang disebut sebagai Hyperrealitas. Dengan demikian
realitas adalah dunia yang telah diambil alih oleh model-model atau simulasi
realitas.
Selain apa yang diuraikan diatas, kemajuan media-media
telekomunikasi pun tak luput di dalamnya. Kecanggihan telekomunikasi masa kini
ratusan kali lipat lebih maju ketimbang saat era tahun 1980 sampai sebelum
tahun 2000-an. Berbagai fitur media sosial seolah menjadi pengganti model
interaksi secara face to face. Orang-orang tidak lagi harus berkelut
dengan jarak dan waktu hanya untuk berkomunikasi, cukup dengan memainkan
berbagai fitur media sosial tersebut, maka komunikasi sudah dapat dilakukan.
Begitu banyak orang yang merasa terbantu dengan teknologi komunikasi yang kian
maju tersebut.
Smartphone bak menjadi benda yang di dewakan oleh
kebanyakan orang. Banyak hal yang dapat dilakukan, mulai dari komunikasi jarak
jauh, mencari pengetahuan, hingga transaksi jual beli sekalipun dapat dilakukan
dengan menggunakan ponsel pintar tersebut. Sungguh benar-benar dimanjakan
manusia abad 21 ini. Bukan tidak mungkin 10 sampai 20 tahun mendatang ada
kemajuan yang lebih spektakuler lagi yang bakal tercipta.
Namun, tentunya dibalik sebuah kemajuan yang pesat, muncul
dampak yang tak dapat dihindarkan pula akibatnya. Karena lebih seringnya
berkomunikasi jarak jauh, manusia era modern ini terkadang mengabaikan adanya
interaksi secara langsung, bahkan lebih parahnya lagi sekalipun banyak orang
yang berlalu lalang, mereka lebih memilih fokus menatap layar ponsel pintar ketimbang
harus bertegur sapa.
Semua yang terjadi di atas hanya bagian kecil dari arus
modernisasi yang telah sukses bercokol di berbagai belahan dunia. Siapapun yang
masih bertahan teguh dengan nilai-nilai tradisional yang kuno, maka akan
tergerus dengan sendirinya. Modernisasi menawarkan dinamisasi segi
kehidupan yang memacu manusia untuk terus fight, sedangkan nilai-nilai
tradisional hanya mengantarkan pada stagnasi semata. Itu menurut
pendapat kaum modernis. Dogma mereka begitu ampuh memikat dunia, hingga kini
dianut hingga dipuja-puja masyarakat dunia.
Indonesia sebagai bagian dari dunia yang luas turut serta
dalam arus kemajuan ini, meskipun tak dapat dipungkiri negeri ini belum mampu
menyejajarkan diri dengan negara-negara adidaya lainnya. Banyak hal yang
menjadi faktor dari keterlambatan negeri ini untuk bangkit dari keterpurukan.
Salah satunya karena negeri ini terlampau sangat lama sekali terkungkung dalam
imperialisme barat. Bahkan usia kemerdekaan Indonesia saat ini belum melampaui
lamanya durasi penjajahan dulu.
Selain itu etos masyarakat kekinian tak sebaik kala di
awal meraih kemerdekaan yang begitu giat dalam merangkai kemajuan. Berkaca pada
negara-negara yang sempat pula terpuruk dan kini menjadi sangat maju, semisal
Jepang, mereka tak pernah luntur mewariskan semangat-semangat kemajuan yang
harus diperjuangkan secara gigih laiknya berjuang meraih kemerdekaan kepada
anak cucu mereka. Hasil memang tak pernah mengkhianati usaha, Jepang menjadi
salah satu kiblat kemajuan dunia, jauh melampaui Indonesia, yang padahal dulu
pernah sama-sama terpuruk.
Tak ada kata terlambat untuk terus berpacu dalam ganasnya
peradaban dunia di era millenium ini. Namun tentunya, harus ada kontrol
terhadap arus yang keluar-masuk dalam setiap perkembangan yang ada. Globalisasi
bukan hadir untuk membunuh nilai-nilai normatif yang terdapat dalam masyarakat,
namunkeduanyaharus berjalan beriringan, agar hadirnya sebuah kemajuan tak
menggerus peradaban yang dibangun susah payah sejak lampau.